Belajar Berdamai dengan Keadaan (Baduy)

Karena belajar ga harus di ruang kelas, ga harus sama orang pinter. Apalagi sok pinter. Dalam perjalanan lo bisa belajar, bisa diterima alam semesta sama dengan lulus menjadi manusia.

Kanekes

Jamaah, oeyyy jamaahhhhh~
Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Tuhan YME, dengan kehendaknya kita bisa saling berbagi, walau hanya berbagi cerita lewat blog ini. Kali ini ustadz mau cerita silaturahmi ustadz #KeBaduy. Sebelumya ustadz mohon maaf banget harus nyekip cerita explore NTB ustadz. Ustadz emang agak suka kealih gitu, tapi ustadz ga gampang ke alih kok kalo udah sama ukhti. #ELUS JENGGOT

Mengunjungi suku baduy itu cita-cita gue sejak sebelum lahir dan baru kesampean taun lalu. Ga nanggung-nanggung satu tahun kebelakang gue udah 5 kali ke Baduy. *BERASA ORANG BADUY LUAR HAHAH..! EMANG IYA

Kalian kalem aja, ini bukan perjalanan galau gue lagi. Kali ini gue bener-bener berasa jadi travelmate idaman, percaya gapercaya terserah kalian. Selama di baduy banyak cewek yang minta gue gandeng. Rata-rata mereka gandeng gue erat-erat, karena mereka butuh pegangan. Pegangan hidup! Tapi gue bingung, setelah sampe jakarta ga ada satupun yang minta gandeng. SEMPAK!

Berkunjung ke Baduy dalam itu impian gue sedari dulu. Dari cerita-cerita yang gue denger sebelumnya gue berkesimpulan bagi gue Baduy itu tempat istimewa. Tempat dimana orang masi memegang idealisme nya. Ga kayak orang jaman sekarang yang idealisme nya udah model jumat kliwon. Banyak boy band terus ikut-ikutan buat boy band,  rektor lo pasang behel trus lo juga ikut-ikut pasang behel duhh miris sob kalo kek gitu.

Perjalanan kebaduy merupakan perjalanan yang luar biasa, mulai dari tracking, mandi disungai, tidur dirumah warga, jauh dari sinyal, jauh dari dosen, jauh dari pacar (pacar orang) semuanya membuat gue larut pada kedamaian. Bisa dibilang gue jatuh cinta pada tempat ini dan ga ada bosannya untuk berkunjung lagi. Gue sempat tercengan dengan keramahan mereka, keramahan tulus yang mungkin tak akan pernah lo temui di Jakarta. Mereka begitu menghargai tamu mereka tulus tanpa membeda-bedakan antara kaya-miskin, cantik-kurang cantik, ganteng-kurang ganteng, cabecabean-terongterongan. Ini nilai respect yang luar biasa menurut pandangan gue.

Pernah suatu saat ditemaram senja gue duduk di depan bale (tempat pemuda biasa memainkan angklung), sambil ngupil gue merasakan kedamaian yang luar biasa. Selain upil gue yang gedhe-gedhe alunan musik angklung di sejuknya senja makin membawa gue larut dalam suasana damai. Ini epic moment, kedamaian yang  naissss bingits. Gue mau cerita kalo pada saat itu ga cuma bibir gue yang tersenyum, dalam posisi tangan yang masi di lubang hidung gue yakin hati gue juga tersenyum saat itu. Bisa-bisanya gue ga panik dengan realita isi dompet ga lebih dari cemban, gue selow walaupun sampe jakarta entah gue bisa makan ato kagak, gue lupa mikirin bayar kostan bulan depan.

Gue belajar tentang sebuah kesedarhanaan. Yang gue tangkep orang Baduy tak berpikir tentang mengejar harta kekayaan. Tak perlu berlebihan asalkan cukup, sudah itu saja. Sebuah kesederhanaan yang mungkin membuat mereka merasa bahagia walau hanya dengan sebuah kesederhanan. Mari berkaca pada diri kita masing-masing? *CEGUKKK CEGUKKK CEGUUKKK !!!

Advertisements

One thought on “Belajar Berdamai dengan Keadaan (Baduy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s